Ikuti Kami di :            

Pendidikan Islam Anak Usia Dini

Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Jl. Batoro Katong No. 32 Ponorogo, Telp. (0352) 461037

Ketua Prodi PIAUD Insuri Jadi Narasumber FGD Digitalisasi Cerita Rakyat Wengker di Ponorogo

April, 23 2026 17:20
Ketua Prodi PIAUD Insuri Jadi Narasumber FGD Digitalisasi Cerita Rakyat Wengker di Ponorogo
Oleh Admin

Ponorogo, 23 April 2026 — Upaya pelestarian budaya lokal berbasis teknologi kembali mendapat perhatian melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Digitalisasi Cerita Rakyat Wengker: Revitalisasi Warisan Budaya Lokal melalui Media Interaktif Digital” yang diselenggarakan pada Kamis, 23 April 2026, bertempat di Hotel Maesa Ponorogo.

Kegiatan ini digagas oleh Muhammad Syaiful Fahmi, M.H., dosen UNMUS Merauke, Papua Selatan, yang juga bertindak sebagai Ketua Tim Peneliti dalam program hibah yang didanai oleh LPDP dan Dana Indonesiana. FGD ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan akademisi, praktisi pendidikan, dan pemerhati budaya dalam merumuskan langkah konkret pelestarian cerita rakyat Wengker melalui pendekatan digital.

Dalam sambutannya, Muhammad Syaiful Fahmi menegaskan bahwa digitalisasi bukan sekadar transformasi media, melainkan bagian dari strategi besar untuk menjaga eksistensi budaya lokal di tengah arus globalisasi. Ia menyampaikan bahwa generasi muda, khususnya anak usia dini, membutuhkan pendekatan yang relevan dengan dunia mereka—yakni dunia digital yang interaktif dan visual.

Sementara itu, pemateri utama dalam FGD, Abdah Munfaridatus Sholihah, M.Pd.I., selaku Kaprodi PIAUD IAI Sunan Giri Ponorogo, memaparkan pentingnya penguatan identitas budaya sejak usia dini. Ia menjelaskan bahwa cerita rakyat Wengker bukan hanya warisan naratif, tetapi juga sarat nilai moral, spiritual, dan sosial yang dapat membentuk karakter anak.

Menurutnya, transformasi cerita rakyat ke dalam ekosistem digital harus dilakukan secara edukatif dan kontekstual. “Anak-anak hari ini hidup dalam ekosistem digital. Maka, cerita rakyat seperti Bathoro Katong, Ki Ageng Kutu, dan Ki Ageng Mirah perlu dihadirkan dalam format yang menarik, seperti animasi, agar lebih mudah dipahami dan dicintai,” ujarnya.

Diskusi dalam FGD berlangsung dinamis dengan berbagai masukan dari peserta yang terdiri dari akademisi, guru PAUD, serta pegiat budaya lokal. Beberapa poin penting yang dihasilkan antara lain perlunya kolaborasi lintas sektor, integrasi nilai budaya dalam kurikulum pendidikan anak usia dini, serta pemanfaatan teknologi digital sebagai media pembelajaran yang inovatif.

FGD ini juga menekankan pentingnya membangun ekosistem digital budaya yang berkelanjutan, tidak hanya dalam bentuk produk visual, tetapi juga platform distribusi yang dapat diakses secara luas oleh masyarakat, khususnya anak-anak dan pendidik.

Sebagai luaran konkret, kegiatan ini menghasilkan rencana pengembangan produk film animasi berbasis cerita rakyat Wengker Ponorogo. Film animasi tersebut akan mengangkat tokoh-tokoh legendaris seperti Bathoro Katong, Ki Ageng Kutu, dan Ki Ageng Mirah sebagai representasi nilai-nilai kearifan lokal yang dikemas secara modern dan edukatif.

Diharapkan, melalui inisiatif ini, cerita rakyat Wengker tidak hanya bertahan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga mampu hidup dan berkembang dalam ruang digital, menjadi sumber pembelajaran yang inspiratif bagi generasi masa depan.