"Guru adalah Cermin Anak: Sarasehan Pendidikan Sukorejo Hadirkan Dosen PIAUD INSURI Ponorogo"
Oleh Admin
Ponorogo – Gedung PGRI Kecamatan Sukorejo menjadi saksi terselenggaranya Sarasehan Pendidikan bertema “Mendidik Anak dengan Keteladanan, Cinta dan Kasih” pada Sabtu, 21 Juni 2025. Kegiatan yang digagas oleh DPRD Provinsi Jawa Timur bersama Hj. Atika Banowati, S.H., Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur Fraksi Golkar, ini diikuti oleh 126 peserta yang seluruhnya merupakan guru-guru PAUD dan TK/RA se-Kecamatan Sukorejo Ponorogo. Kehadiran para pendidik ini menunjukkan tingginya komitmen mereka dalam meningkatkan kualitas pengasuhan dan pembentukan karakter anak usia dini.
Dalam sambutannya, Hj. Atika Banowati, S.H. memberikan apresiasi kepada para pendidik yang hadir, mengingat peran guru PAUD dan TK/RA sangat penting dalam membentuk pondasi karakter anak sejak dini. Beliau menegaskan bahwa pengasuhan dan pendidikan anak tidak hanya menjadi tugas orang tua, tetapi juga menjadi tanggung jawab moral para pendidik sebagai figur teladan di sekolah. “Guru adalah cermin bagi anak-anak. Kehadiran guru yang penuh cinta dan keteladanan akan membentuk generasi yang berkarakter kuat,” ujarnya.
Sarasehan ini menghadirkan Abdah Munfaridatus Sholihah, M.Pd.I., Kepala Program Studi PIAUD IAI Sunan Giri Ponorogo, sebagai pemateri utama. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa pendidikan anak usia dini menuntut keterlibatan penuh dari guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai panutan. Anak-anak usia dini memiliki kemampuan meniru yang sangat tinggi, sehingga perilaku, ucapan, dan sikap guru menjadi model utama bagi mereka. “Sebelum mengajar, guru harus terlebih dahulu menjadi teladan,” tegasnya.
Pemateri juga menekankan pentingnya cinta dan kasih sayang dalam proses pembelajaran. Guru yang mampu membangun hubungan emosional yang hangat dengan peserta didik akan membuat anak merasa aman, disayangi, dan dihargai. Kondisi tersebut sangat penting untuk mendukung perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak. Beliau menambahkan bahwa anak-anak hanya dapat belajar dengan optimal ketika berada dalam lingkungan yang penuh cinta, tidak penuh tekanan, dan bebas dari pola komunikasi yang negatif.
Sesi diskusi berjalan dengan sangat interaktif. Para guru menyampaikan berbagai tantangan yang mereka hadapi di lapangan, seperti perbedaan karakter peserta didik, kurangnya keterlibatan orang tua, hingga bagaimana menjaga konsistensi keteladanan ketika menghadapi tekanan pekerjaan. Pemateri memberikan berbagai strategi praktis, mulai dari membangun komunikasi efektif dengan anak, kolaborasi positif dengan orang tua, hingga cara mengelola emosi guru agar tetap stabil di depan peserta didik.
Kegiatan ini juga diselingi sesi refleksi dan ice breaking yang membuat suasana semakin hangat. Para guru terlihat antusias dan merasa mendapatkan energi baru untuk meningkatkan peran mereka sebagai pendidik sekaligus teladan bagi anak-anak di sekolah. Banyak dari mereka menyampaikan bahwa materi sarasehan sangat relevan dan memberikan dorongan nyata untuk meningkatkan kualitas interaksi di kelas.
Menjelang penutupan, Hj. Atika Banowati, S.H. menyampaikan terima kasih serta apresiasinya kepada seluruh guru yang hadir. Beliau berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi ruang penguatan kapasitas pendidik agar semakin siap dalam memberikan keteladanan, cinta, dan kasih sayang dalam proses pembelajaran. Melalui sarasehan ini, diharapkan para pendidik di Sukorejo dapat terus berperan aktif dalam membentuk generasi masa depan yang berkarakter, berakhlak mulia, dan penuh kasih.